Halaman

Tampilkan postingan dengan label Hidup sehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hidup sehat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Januari 2019

Apa Akibatnya Kalau Tubuh Mengalami Gangguan Elektrolit?


Mendengar kata elektrolit, kebanyakan orang atau mungkin juga Anda akan langsung membayangkan iklan minuman isotonik atau minuman olahraga. Ya, jenis minuman ini memang dapat membantu menggantikan elektrolit yang hilang sehabis Anda berolahraga atau beraktivitas. Tidak hanya itu, minuman isotonik juga diklaim dapat membantu mengatasi gangguan elektrolit.

Gangguan elektrolit itu apa, sih?

Cairan di dalam tubuh kita terdiri dari banyak zat, salah satunya berupa elektrolit. Elektrolit itu sendiri adalah komponen bermuatan positif dan negatif yang berperan penting untuk kesehatan tubuh. Mulai dari meningkatkan fungsi saraf dan otot, mengoptimalkan aktivitas otak, serta membangun kembali jaringan tubuh yang rusak.
Dibandingkan bayi dan anak-anak, orang dewasa dan usia lanjut lebih rentan mengalami gangguan elektrolit. Lantas, apa itu gangguan elektrolit?
Gangguan elektrolit adalah kondisi saat elektrolit dalam tubuh jadi tidak seimbang. Hal ini bisa terjadi karena tubuh Anda mengandung terlalu banyak elektrolit atau malah kekurangan elektrolit yang dibutuhkan.
Ada banyak hal yang dapat menyebabkan elektrolit di tubuh Anda jadi tak seimbang, di antaranya:
  • Olahraga terlalu keras
  • Diare atau muntah dalam waktu yang lama
  • Pola makan yang buruk
  • Dehidrasi berat
  • Penyakit seperti gagal jantung, diabetes, dan beberapa jenis kanker
  • Pengobatan kanker
  • Konsumsi obat-obatan tertentu, seperti antibiotik dan obat diuretik

Tanda dan gejala gangguan elektrolit

Gejala gangguan elektrolit berbeda-beda, tergantung dari jenis elektrolit mana yang jumlahnya tidak seimbang dalam tubuh. Jika kadar magnesium, natrium, kalium, atau kalsium dalam tubuh tidak seimbang, maka hal ini dapat menimbulkan gejala seperti:
  • Detak jantung tidak normal
  • Tubuh lemas
  • Kelainan tulang
  • Tekanan darah tidak stabil
  • Kelainan sistem saraf
  • Kejang otot
  • Tubuh mati rasa
Sedangkan jika kadar kalsium dalam darah terlalu banyak, misalnya karena Anda sedang menjalani terapi pengobatan kanker payudara atau kanker paru-paru, maka Anda akan mengalami tanda-tanda berikut:
  • Sering buang air kecil
  • Detak jantung tidak teratur
  • Kelelahan
  • Mual, muntah, dan sakit perut
  • Mulut kering
  • Hilangnya nafsu makan
  • Sembelit
  • Koma
Elektrolit yang hilang maupun berlebih dalam tubuh harus segera diseimbangkan kembali supaya tubuh tetap sehat. Jika kelebihan elektrolit terus dibiarkan, maka hal ini dapat memperberat kerja ginjal untuk menyaringnya dan memicu sakit ginjal.
Begitu juga bila tubuh terus-terusan kekurangan elektrolit, maka hal ini bisa berakibat fatal. Mulai dari menyebabkan kejang, koma, hingga henti jantung.
Bila Anda mulai mengalami salah satu atau beberapa gejala gangguan elektrolit di atas, sebaiknya jangan tunda lagi untuk periksa ke dokter.

Kamis, 18 Oktober 2018

Sering Salah, Ternyata Begini Aturannya Minum Obat 3 Kali Sehari

Setiap obat, baik itu yang dari resep dokter atau dijual bebas di toko obat, memiliki aturan minum dan jadwal dosisnya masing-masing. Aturan ini harus dipatuhi agar Anda bisa cepat sembuh. Nah ketika mendapat obat yang harus diminum 3 kali sehari (3×1), kapan saja biasanya Anda meminumnya? Pagi, siang, dan malam? Sebetulnya, cara minum obat 3 kali sehari seperti ini kurang tepat, lho! Lantas, kapan waktu minum obatnya?

Aturan minum obat 3 kali sehari yang benar sesuai anjuran

Maksud dari minum obat dengan aturan minum tiga kali sehari adalah memang dalam sehari Anda minum obat sebanyak tiga kali. Namun, cara membagi waktunya tidak sesederhana hanya “pagi, siang, dan malam”.
Dilansir dari Detik Health, dr. Anis Kurniawati, PhD, SpMK(K), sekretaris Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) dari Kementerian Kesehatan, cara membagi waktu minum obat 3 kali sehari harus per 24 jam. Artinya, Anda harus minum obat setiap 8 jam sekali untuk tiga kali dalam sehari.
Jadi, misalkan waktu pertama kali Anda minum obat di hari itu adalah pukul 8 pagi. Maka dosis kedua harus Anda minum pukul 4 sore, dan dosis terakhir harus Anda minum pada pukul 12 malam. Bukan berarti Anda minum obat mengikuti waktu makan pagi, siang, dan malam.
Mengikuti aturan minum obat 3 kali sehari dengan benar itu penting. Dr Anis lanjut mengatakan, aturan frekuensi minum obat dibuat berdasarkan proses penyerapan obat dalam tubuh. Untuk beberapa obat tertentu, jadwal minum harus benar-benar saklek karena dosis konsentrasi obat harus tetap ada terus-terusan dalam darah.
Begitu konsentrasi obat mulai turun, maka efektivitasnya bisa menurun untuk memerangi penyakit sehingga Anda harus minum obat lagi demi menjaga konsentrasi obat di dalam darah tetap stabil.

Lantas, bagaimana jika saya lupa minum dosisnya?

Jika Anda lupa minum obat, tapi waktu sudah akan masuk ke waktu selanjutnya untuk minum obat, apa yang harus dilakukan? Biasanya Anda memilih untuk melewatkan saja satu waktu minum obat ini. Atau beberapa orang mungkin memilih untuk menambah dosisnya menjadi dua.
Namun, itu cara minum obat yang salah. Anda tidak boleh menggabungkan dosis obat dalam satu waktu. Atau memilih untuk tidak minum obat di waktu kedua, dan lanjut saja minum di waktu ketika yang sudah ditentukan.
Jika Anda lupa minum obat di satu waktu, langsung minum saja di saat itu juga. Untuk waktu minum obat selanjutnya, Anda sesuaikan lagi dengan delapan jam setelahnya, atau delapan jam waktu terakhir Anda minum obat.
Misalnya Anda minum obat yang pertama pukul 8 pagi, lalu Anda lupa seharusnya minum lagi pukul 4 sore. Anda baru ingat setelah pukul 5 sore. Nah begitu teringat, langsung saja minum obat di waktu tersebut. Untuk selanjutnya, Anda minum lagi di delapan jam setelah pukul 4 sore; yaitu tetap pukul 12 malam.